Morowali, Sulawesi Tengah– Sebuah video yang viral di media sosial memperlihatkan pemandangan yang memprihatinkan. Kawanan monyet terekam berkeliaran di jalur kendaraan berat di kawasan pertambangan nikel Morowali. Mereka tampak kebingungan, berjalan pelan di atas tanah merah yang gundul, dikelilingi alat-alat besar dan debu tambang.
Video yang diunggah oleh akun Jawa Pos di TikTok itu telah ditonton lebih dari 696 ribu kali dan menuai ribuan komentar prihatin dari warganet. Bukan tanpa alasan, pasalnya satwa liar tersebut seharusnya hidup bebas di dalam hutan, bukan di area tambang yang penuh bahaya.
Terusir dari Habitat Asli
Menurut informasi yang beredar, kejadian ini diduga kuat akibat meluasnya aktivitas pertambangan nikel yang membuka lahan hutan secara besar-besaran. Hutan yang selama ini menjadi rumah bagi monyet-monyet itu semakin menyempit. Pohon-pohon tempat mereka bergelantungan, mencari makan, dan berlindung ditebang satu per satu untuk memberi jalan bagi lubang tambang dan pabrik-pabrik raksasa.
Tidak punya pilihan lain, monyet-monyet itu pun keluar dari hutan. Mereka masuk ke area tambang, tempat yang sama sekali tidak ramah bagi satwa liar. Di sana mereka berisiko tertabrak truk atau terlindas alat berat setiap saat.
Bukan Sekadar Kebingungan, Mereka Juga Kelaparan
Yang lebih mengkhawatirkan, monyet-monyet itu kesulitan mendapatkan makanan. Sumber pakan alami mereka berupa buah-buahan dari pepohonan hutan sudah tidak tersedia. Dalam kondisi terdesak, beberapa ekor monyet bahkan terlihat mengais sisa-sisa makanan di tumpukan sampah pemukiman warga sekitar tambang.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengaku bahwa sejak tahun 2021 bertepatan dengan perluasan kawasan tambang monyet-monyet mulai sering keluar ke pemukiman. “Mereka kelihatan lapar dan bingung,” ujarnya.
Primata Endemik yang Terancam Punah
Monyet yang terekam dalam video tersebut diketahui berjenis Boti (Macaca tonkeana), yaitu primata endemik yang hanya ditemukan di Sulawesi Tengah. Statusnya saat ini sudah rentan menuju punah akibat terus berkurangnya populasi liar.
Para petugas dari Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) mengakui bahwa konflik antara monyet dan manusia di wilayah Morowali makin sering terjadi seiring meluasnya tambang. Namun, mereka mengaku kesulitan masuk ke dalam area tambang untuk mengevakuasi atau mengamankan satwa-satwa tersebut, karena wilayah itu bukan kawasan konservasi yang menjadi wewenang penuh mereka.
Sebuah Peringatan yang Tak Boleh Diabaikan
Kawanan monyet yang kebingungan di jalur tambang itu sebenarnya hanyalah satu sisi dari masalah yang lebih besar. Ia menjadi alarm bahwa ekosistem sedang rusak, dan satwa liar adalah korban paling tak berdaya. Mereka tidak bisa protes, tidak bisa demo, dan tidak bisa meminta pertolongan. Yang bisa mereka lakukan hanyalah berjalan terseok-seok meninggalkan rumah yang sudah rata dengan tanah.
Ke depan, pemerintah daerah dan perusahaan tambang diharapkan tidak hanya fokus pada keuntungan industri, tetapi juga memikirkan solusi mitigasi bagi satwa liar yang terusir. Misalnya dengan menyediakan jalur penyelamatan atau koridor hijau, menghentikan sementara pembukaan lahan baru, atau merelokasi monyet-monyet yang terjebak ke habitat yang masih aman.
Setidaknya, jangan sampai tayangan seperti ini menjadi pemandangan biasa di masa depan. Karena biar bagaimanapun, hutan bukan hanya milik manusia. Ia juga rumah bagi makhluk lain yang sama-sama ingin bertahan hidup.

Leave a Reply